Sudah Setahun Era H. Suardi Haseng. Ketika Lampu Hias Menyala, Apakah Kebutuhan Rakyat Ikut Terang?

Table of Contents
Katata.id – Soppeng, Satu tahun sudah kepemimpinan Bupati H. Suardi Haseng berjalan di Kabupaten Kabupaten Soppeng. Namun dalam kurun waktu itu, gaung yang lebih sering terdengar justru riuh politik dan seremoni peresmian, bukan denyut perubahan yang benar-benar terasa di dapur rakyat.

Ruang publik dipenuhi agenda simbolik, gunting pita, dan narasi pencapaian. Pemerintah tentu berhak mengklaim kerja. Tetapi publik juga berhak bertanya: kerja untuk siapa, dan untuk apa?

Jumat (20/2/2026), pertanyaan itu kembali mengemuka—terutama ketika pembangunan yang paling kasat mata justru berupa penataan lampu hias dan taman kota.

Lampu Hias dan Taman: Prioritas atau Sekadar Simbol?
Tak ada yang menolak keindahan. Penataan kota adalah bagian dari wajah daerah. Lampu hias yang menyala di pusat kota memang menghadirkan estetika. Taman yang rapi memberi ruang publik yang lebih nyaman.

Namun persoalannya bukan pada indah atau tidaknya. Persoalannya adalah soal prioritas.

Di saat masih ada jalan desa berlubang yang menghambat mobilitas warga, drainase yang memicu genangan saat hujan turun, akses pertanian yang belum optimal, hingga pelayanan publik yang masih dikeluhkan lamban—pembangunan bernuansa kosmetik terasa kontras dengan realitas lapangan.

Di pusat kota, cahaya lampu mungkin berkilau. Tetapi di sudut-sudut desa, kebutuhan dasar belum sepenuhnya terpenuhi. Di sinilah muncul kesan bahwa pembangunan lebih menonjolkan tampilan ketimbang dampak.

Jika kebijakan publik lebih sibuk memperindah permukaan tanpa menuntaskan fondasi, maka wajar bila publik menyebutnya sebagai pencitraan.

Proyeksi Pembangunan yang Kurang Terukur
Pembangunan yang sehat lahir dari perencanaan berbasis kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar proyek yang mudah difoto dan dipromosikan. Tanpa skala prioritas yang jelas serta komunikasi anggaran yang transparan, kepercayaan publik perlahan terkikis.

Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Soppeng, penulis memandang orientasi pembangunan seharusnya lebih diarahkan pada:

Penguatan ekonomi rakyat dan UMKM

Infrastruktur produktif untuk sektor pertanian

Peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan dasar

Perbaikan jalan lingkungan dan fasilitas publik yang langsung dirasakan masyarakat

Jika energi dan anggaran lebih banyak tersedot pada proyek simbolik, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar persepsi, melainkan masa depan daerah.

Mengembalikan Substansi, Bukan Sekadar Narasi
Kritik ini bukan bentuk antipati, apalagi penegasian atas seluruh kerja pemerintah daerah. Justru sebaliknya—ini adalah bentuk tanggung jawab moral agar kebijakan tetap berada di rel kepentingan rakyat.

Kabupaten Soppeng tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengevaluasi prioritas, membuka ruang partisipasi publik secara luas, serta memastikan setiap rupiah anggaran memberikan dampak nyata.

Sudah saatnya narasi tentang Soppeng tidak lagi didominasi polemik politik atau proyek simbolik yang gemerlap sesaat. Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar kota yang tampak indah di foto, melainkan kehidupan yang benar-benar membaik dalam kenyataan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat seberapa terang lampu hias menyala—melainkan seberapa kuat kebijakan berpihak pada rakyat.

Opini: Andi Fuad – Kader HMI Cabang Soppeng
20 Februari 2026

(Sofyan)

Post a Comment

/
/
/