Biadab! Bantuan Petani Soppeng Diduga Dijadikan Ajang Pemerasan, Rakyat Dipaksa Bayar Mahal
Table of Contents
Katata.id – Soppeng. Dugaan pungutan liar (pungli) dalam program bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) di Kabupaten Soppeng kini mencuat ke permukaan. Bantuan yang semestinya menyelamatkan petani justru diduga dijadikan ladang rente oleh oknum dekat kekuasaan, Minggu (5/4/2026).
Seorang petani, IW, mengaku telah membayar Rp100 juta kepada AR, diduga orang dekat penguasa, untuk memperoleh dua unit alsintan dari dua kelompok tani berbeda. “Setiap unitnya Rp50 juta. Saya harus bayar agar bisa mendapatkan alat yang seharusnya gratis,” ujarnya kepada Katata.id.
Fakta paling mengejutkan: praktik ini diduga sistematis, menutup akses kelompok tani kecuali mampu membayar “setoran” fantastis. IW bahkan terpaksa menyewakan alsintan di luar daerah hanya untuk menutupi biaya tersebut. Bantuan yang semestinya gratis justru menjadi beban finansial tambahan bagi petani.
Data lapangan menunjukkan dari 63 unit alsintan yang tersalur melalui Dinas Pertanian Kabupaten Soppeng, setiap unit “dibanderol” Rp50 juta hingga Rp75 juta. Total kerugian petani diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Sorotan tajam datang dari Lulung, Panglima Elang Timur, yang mengecam praktik ini. “Ini bukan sekadar pelanggaran administratif. Ini perampasan hak petani oleh mereka yang dekat dengan penguasa,” katanya.
Kasus ini kini tengah diselidiki aparat hukum. IW telah diperiksa di Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Soppeng, sementara aliran dana dan dugaan keterlibatan pihak lain masih dalam penyelidikan.
Diamnya Dinas Pertanian dan pihak-pihak terkait memicu kecurigaan publik. Jika terbukti, skandal ini bukan sekadar pelanggaran hukum—ini pengkhianatan terhadap rakyat, pengkhianatan terhadap petani yang seharusnya menjadi prioritas negara.
Kini pertanyaannya. apakah hukum akan menembus lingkar kekuasaan, atau skandal ini akan kembali lenyap seperti tabir korupsi sebelumnya?
(Sofyan)





Post a Comment