Ini Alasan 23 Maret Dipilih Jadi Hari Jadi Soppeng!
Table of Contents
Katata.id – Soppeng, Jauh sebelum dikenal sebagai daerah yang tenang dan sejuk seperti sekarang, Soppeng pernah berada dalam masa penuh kekacauan. Masyarakat hidup tanpa sistem yang jelas, tanpa pemimpin yang mampu menyatukan, dan tanpa aturan yang mengikat. Dua wilayah besar—Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau—berjalan sendiri-sendiri, dengan kepentingan masing-masing.
Namun sejarah berubah pada satu titik penting.
Melalui penelusuran panjang para ahli dan tokoh masyarakat—yang menggali sumber dari naskah kuno seperti La Galigo hingga tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun—ditemukan sebuah momen krusial: pengangkatan La Temmamala sebagai raja pertama Soppeng.
Peristiwa itu diyakini terjadi pada 23 Maret 1261.
Tanggal ini bukan sekadar angka dalam kalender. Ia menandai lahirnya sebuah sistem pemerintahan yang teratur di Soppeng. Dari kondisi yang sebelumnya tidak menentu, masyarakat mulai mengenal kepemimpinan, hukum, dan nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Inilah alasan mengapa 23 Maret kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Soppeng.
Lebih dari sekadar perayaan ulang tahun daerah, tanggal ini menjadi simbol perubahan besar—dari kekacauan menuju keteraturan, dari perpecahan menuju persatuan.
Kisah ini juga tak lepas dari sosok Manurungnge ri Sekkanyili, figur legendaris yang dipercaya membawa nilai-nilai luhur ke tengah masyarakat. Salah satu momen penting yang terus dikenang adalah sumpah di Lamungpatue—sebuah ikrar yang menekankan pentingnya kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab dalam memimpin.
Nilai-nilai itulah yang kemudian mengakar kuat dan diwariskan lintas generasi.
Hingga hari ini, setiap tanggal 23 Maret, masyarakat Soppeng tidak hanya merayakan hari jadi. Mereka juga mengenang sebuah perjalanan panjang: tentang bagaimana dua wilayah besar bersatu, tentang kepemimpinan yang lahir dari kepercayaan rakyat, dan tentang integritas yang dijaga sejak awal berdirinya kerajaan.
Soppeng, pada akhirnya, bukan sekadar daerah dengan ikon kelelawar atau udara yang sejuk.
Ia adalah tanah yang lahir dari legenda, dibangun di atas sumpah kejujuran, dan diwariskan kepada generasi yang memiliki tanggung jawab besar: menjaga nilai-nilai itu tetap hidup.
(**)





Post a Comment