MBG Soppeng Disorot. Dapur Dekat Kandang Ternak, Ketua BGN Diminta Turun Tangan Copot Pengelola

Table of Contents
SOPPENG, KATATA.ID — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Soppeng kembali diguncang sorotan keras. Sebuah dapur MBG yang berlokasi di Dare Ajue, Desa Lalabata Rilau, Kecamatan Donri-Donri, diduga beroperasi berdampingan dengan kandang ternak. Kondisi ini memicu kemarahan warga dan menimbulkan kekhawatiran serius terkait keamanan makanan yang setiap hari dikonsumsi para pelajar penerima manfaat program tersebut, Selasa (12/5/2026).

Keberadaan dapur yang disebut berada sangat dekat dengan area peternakan dinilai mencoreng standar higienitas dan sanitasi yang seharusnya menjadi syarat mutlak pengolahan makanan bagi anak sekolah. Warga mengaku terganggu dengan bau menyengat, banyaknya lalat, hingga potensi pencemaran udara yang dianggap membahayakan kesehatan.

 “Ini makanan untuk anak-anak sekolah, bukan untuk dipertaruhkan kesehatannya. Bagaimana bisa dapur umum berdampingan dengan kandang hewan?” kecam seorang warga dengan nada geram.

Sorotan publik semakin membesar karena dapur tersebut diduga tetap beroperasi meski aturan Badan Gizi Nasional (BGN) secara tegas melarang dapur MBG berada di sekitar sumber pencemaran biologis, termasuk kandang ternak dan fasilitas sanitasi.

Wakil Ketua BGN, Nanik Sudaryati Deyang, sebelumnya telah menegaskan bahwa dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib steril dari sumber kontaminasi yang berpotensi merusak kualitas makanan. Dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) BGN juga ditegaskan bahwa dapur pengolahan makanan tidak boleh berada di dekat kandang hewan, tempat pembuangan sampah, maupun sumber pencemaran lainnya.

Namun fakta di lapangan justru memperlihatkan kondisi yang dinilai bertolak belakang dengan aturan tersebut. Publik kini mempertanyakan proses verifikasi lokasi dapur MBG yang dianggap longgar dan diduga mengabaikan standar kesehatan lingkungan.

“Kalau SOP sudah jelas melarang, lalu kenapa tetap dipaksakan? Ini bukan sekadar kelalaian, tapi menyangkut keselamatan anak-anak yang setiap hari mengonsumsi makanan dari dapur itu,” ujar warga lainnya.

Desakan agar Ketua Badan Gizi Nasional turun tangan langsung kini mulai menggema. Warga meminta evaluasi total terhadap pengelolaan dapur MBG di Soppeng, termasuk pencopotan pengelola apabila terbukti melanggar standar operasional dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Pengamat kesehatan lingkungan menilai keberadaan kandang ternak di sekitar area pengolahan makanan berpotensi memicu kontaminasi bakteri, penyebaran penyakit, hingga berkembangnya serangga pembawa kuman. Risiko tersebut dinilai tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut konsumsi harian siswa sekolah.

“Dapur umum wajib memenuhi standar sanitasi ketat. Harus ada jaminan kualitas udara bersih, lingkungan steril, serta bebas dari sumber pencemaran biologis. Kalau dekat kandang ternak, potensi kontaminasinya sangat tinggi,” ujar seorang pengamat kesehatan lingkungan.

Masyarakat mendesak pemerintah daerah, dinas kesehatan, serta aparat terkait segera melakukan inspeksi menyeluruh terhadap dapur MBG tersebut. Warga juga meminta hasil pemeriksaan dibuka secara transparan kepada publik agar tidak muncul kesan adanya pembiaran terhadap dugaan pelanggaran standar kesehatan.

Program MBG yang seharusnya menjadi harapan peningkatan gizi anak-anak bangsa kini dinilai terancam kehilangan kepercayaan publik apabila pengawasan dilakukan setengah hati. Warga menegaskan, jangan sampai program yang digadang-gadang untuk menyehatkan generasi muda justru berubah menjadi ancaman kesehatan akibat kelalaian dan buruknya tata kelola.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola dapur MBG di Dare Ajue belum memberikan klarifikasi resmi terkait keluhan warga maupun dugaan pelanggaran standar sanitasi tersebut.

(Sofyan)

Post a Comment